PERTEMUAN 9
MANUSIA:
JIWA DAN BADAN
BERBAHASA DAN BERKEGIATAN
Bahasa
Berbicara adalah suatu gejala yang sudah dikenal
dengan dan jelas sehingga secara relatif mudah dipelajari oleh setiap orang
baik pada dirinya sendiri maupun pada orang lain. Kita tetap sedang berbicara dengan seseorang ataupun mendengarkan
seseorang sedang berbicara. Bahkan apabila kita sedang mendengarkan apa-apa,
kita tak henti-hentinya berbicara dalam diri kita sendiri. Perkuliahan yangan
ejekan-ejekan yang kita ucapkan dalam hati kita sendiri yang terjadi pada waktu
kita sedang membaca dengan berdialog intensif dan tanpa suara dengan sang
penulis .
Bila kita sedang sendirian kita tidak hentinya
berbicara di dalam hati. Meskipun dalam lamunan itu kita tidak bicara dengan
orang lain, setidaknya kita berbicara dengan diri sendiri untuk menyalahkan,
membenarkan, memuji atau menentramkan diri. Demikian pembicaraan menyertai
segala aktivitas kita, mengemukan atau menafsirkan setiap gerak kita, memenuhi
saat istirahat kita dan bergema sampai ke dalam liku-liku bawah sadar kita.
Karena berbicara mengisi eksistensi manusia dan
memberi ciri khas kepadanya, daya bicara itu selalu menjadi objek observasi
serta refleksi bagi filosuf. Manusia telah diciptakan menurut Tuhan agar
menguasai bumi, manusia bisa berbicara dengan lidahnya serta isyarat dengan
tangannya, maka ia melebihi binatang-binatang. Kemampuan berbicara pada manusia merupakan lambang atau
alat dari roh, alat yang memungkinkannya untuk mengukur segala benda dan
mengisyaratkan segala realitas.
Pada zaman ini penuturan serta bahasa, seperti halnya
mitos dan simbol telah menjadi pokok-pokok pengamatan yang sangat disukai dalam
berbagai penyelidikan dan pembahasan, bukan saja di kalangan para filosuf
tetapi juga dikalangan para psikolog dan antropolog. Para filosuf komtemporer,
seperti M. Merleau Ponty dan Paul Ricoveur (Leahy: 208:40-42) menjelaskan bahwa
bahasa tidak hanya mengemukan pikiran, tetapi juga membentuknya, mempelajari
bermacam-macam lambang yang dapat dipakai untuk mengutarakan pengalaman.
Manusia hidup dalam suatu
alam semesta simbolik. Bahasa, mitos, seni dan agama
merupakan bagian-bagian dari semesta itu. Perilaku manusia memang telah
didefinisikan sebagai ”perilaku simbolik”, menggunakan simbol-simbol manusia
memberikan arti kepada hidupnya, serta secara kultural mendefinisikan
pengalaman-pengalamannya yang diatur dengan kelompok tempat dia dilahirkan dan
tempat dia menjadi anggota aktif melalui proses penerimaan pengatahuan. Berkat
bahasalah manusia menghadiri dunia dan dunia menghadiri pikiran. Bahasa
mewahyukan ”ada” dari dunia. ”ada” dari manusia dan ”ada dari pikiran
(2008:41).
Sigmund Freud telah membuktikan bahwa manusia tidak
hanya mengemukan dirinya secara sadar dan sengaja dengan mempergunkan
bermacam-macam sistem tanda, melainkanbahwa ia juga mengemukan diri tampa
sepengatahuannya, secara tidak sadar dan tanpa sekehendaknya. Manusia
membeberkan aktifitasnya yang dalam, menjelmakan kecenderungan-kecenderungannya
yang berkaitan dengan agresifitasnya. Menurut filosuf Andre Marc bahwa keuntungan
yang dapat diperoleh dengan filsafat manusia dari suatu reflek berbicara adalah
memberikan corak khas terhadap ”ada”nya manusia, keadaan itu untuk mengerti
manusia dalam ”kesatuan” dimanisnya dan sekaligus dalam kompleksitasnya sebagai
satu kesatuan yang hidup yang terbawa kearah dunia dan berhubungan dengan
sesamanya.
Ada tiga macam keuntungan kalau kita memulai filsafat manusia dengan studi tentang
perbuatan berbicara yang dianggap sebagai tipe yang paling tepat dari perbuatan
mengisyaratkan pada umumnya, yaitu:
1)
berbicara adalah suatu gejala
yang terang.
2)
Berbicara merupakan salah satu
tema yang terpilih dan disukai oleh pemikiran kontemporer,
3)
Berbicara mengambarkan
keseluruhan manusia atau manusia secara keseluruhan.
Berbicara dan Mengisyaratkan
Percakapan adalah perbuatan
yang menimbulkan kata-kata yang saling berangkai untuk menghasilkan suatu
signifikansi global. Sebuah bahasa adalah kumpulan kata-kata yang merupakan
suatu sistem khusus dari pengungkapan, seperti misalnya bahasa Indonesia dan Inggris.
Bahasa juga berarti bagaimana sesorang menggunakan bahasa itu atau suatu
kelompok tanda atau ungkapan yang dimiliki oleh seseorang pribadi atau sebuah
kelompok khusus. Berdasarkan itu
terdapat ragam bahasa, misalnya bahasa kanak-kakak, para pelajar, para
cendikiawan, para pekerja, para pengrajin dan sebagainya.
Bahasa adalah keseluruhan hukum-hukum umum yang
merupakan unsur-unsur pembentuk dari setiap bahasa. Perbuatan berbicara serta
mengisyaratkan telah dianggap sebagai pernyataan keunggulan manusia terhadap
binatang. Perbedaan tersebut adalah:
1). Bahasa binatang adalah
diberikan bersamaan dengan kelahirannya yang bukan hasil belajar yang
berkembang sejalan dengan perkembangan organismenya, sedangkan anak manusia
memerlukan seseorang yang yang mengajarkan untuk berbicara, seorang anak
manusia yang sejak lahirnya sama sekali tidak berhubungan dengan orang lain,
seandainya ia mampu bertahan, tidak akan pernah dapat berbicara dan juga tidak
akan dapat benar-benr sebagai makhluk manusia. Manusia percakapan bukanlah
hasil perkembangan fisiknya saja, juga anak manusia harus mempelajarinya dengan
orang lain pada waktunya dan juga pelajaran tersebut merupakan suatu faktor
yang mutlak dibutuhkan bagi perkembangan yang sungguh manusiawi.
Tiap anak normal berhasil menjadikan sebuah bahasa
menjadi miliknya melalui banyak usaha aktif yang menyenangkan maupun yang
mungkin juga berat. Prestasi intelektual yang mengiringinya sangat besar. Usaha
tersebut tentu saja mempunyai pengaruh balik yang kuat terhadap kepribadian si
anak, terhadap hubungannya dengan orang lain dan terhadap hubungannya dengan
lingkungan matarialnya.
Peristiwa mulainya seekor anak binatang berteriak
atau seekor anak burung berkicau tidak diikuti oleh suatu perubahan
spektakuler. Sebaliknya pelajaran pertama anak manusia merupakan titik
keingintahuan dan kreativitas yang timbul secara tiba-tiba tampak secara luar
biasa. Semua orang normal dapat
berbicara dan kemampuan bicara itu sangat penting bagi manusia, sehingga
seorang gadis kecil yang bisu, tuli dan buta, seperti Helen Keller dengan
semangat dan cepat mendapatkan pengganti kemampuan bicara dan menguasai bahasa
dan kesusasteraan Inggris.
Pada suatu ketika, binatang lebih cepat dan pandai
dari anak manusia kerana naluri-naluri dan pancaindra binatang jauh lebih peka
daripada yang ada pada anak manusia, tetapi suatu saat dimana anak manusia ini
melewati binatang secara definitif, karena kilat pikiran dalam kepala anak
yangmenggangtikan usaha indrawi dan mereka meraba-raba saja dengan mencari
sebab-sebab. Ketika ia bisa mencari dan menemukan suatu penjelasan dengan
menggunakan bahasa atau suatu macam isyarat formal.
2). Bahasa hewan tidak
berkembang sama sekali, maka bahasa manusiawi maju terus tanpa batas. Sejak
turun – menurun anjik selalu menyalak dengan cara hampir sama, tetapi anak
manusia mulai dengan bahasa ibunya dapat belajar dengan bahasa-bahasa lain
mengasimilasi, mengekpresi dan menciptakan yang baru. Oleh sebab itu bahasa dan
tulisan berkembang secara terus menerus.
Teriakan dari jenis binatang
tidak dapat dialih bahasakan ke dalam teriakan jenis binatang lain. Sebaliknya,
sebuah bahasa manusiawi dapat diterjemahkan ke dalam semua bahasa lain, dengan
cara-cara manusia untuk mengekspresikan dirinya sampai batas tertentu.
Manusia cenderung menyimpan
ucapan-ucapan yang dikemukakannya, tulisan-tulisan yang disusunya dan
karya-karya seni yang diciptakan untuk mencurahkan perasaannya supaya semua itu
dapat dimanfaatkannya secara terus-menerus, sedangkan binatang tidak
mempedulikan hal itu. Penyimpanan itulah manusia dapat menhasilkan kebudayaan.
Teriakkan binatang adalah
pengungkapan dari suatu keperluan dan perasaannya , sedangkan manusia dapat
menahan diri untuk tidak berterik secara spontan. Diantara afektif pada manusia
dan ucapannya yang dikeluarkan terdapat kemungkinan untuk berpikir sejenak dan
membuat pertimbangan yang objektif. Jika ia seorang normal, maka ia tidak akan
bicara tanpa berpikir. Namun bagaimanapun manusia dengan binatang mempunyai
hubungan persamaan dengan binatang dalam banyak hal seperti apabila manusia
melakukan aktifitas seperti mesin atau instingtif, sikapnya kadang-kadang mirip
binatang. Keunggulan manusia yang mutlak ia mampu menghentikan diri, menguasai
diri, berpikir, mempertimbangan situasi dan menilainya.
Kemampuan
berpikir merupakan prinsip kebebasan serta pertanggung jawaban. Keunggulan
manusia itu bersifat esensial dan definitif dalam arti bahwa pada manusia
terdapat kesanggupan-kesanggupan yang sama sekali tidak ditemukan pada
binatang. Manusia dapat menaruh perhatian
terhadap segala hal dan dapat maju secara terus menerus tanpa batas karena ia
mampu berpikir dan bebas dan secara lebih asasi lagi, karena ia mampu
mengabstraksikan dan mengobjektifkan, semua itu mengandalkan adanya bahasa.
Berbicara Kodrat Manusia
Perbuatan berbicara dan
mengisyaratkan itu dilakukan secara sadar dan bebas. Ucapan itu secara
psikoanalis menemukan pantulan tak sadar dari efektifitas yang dalam, lebih
lanjut lagi ucapan itu dipikirkan yang disengaja. Perbuatan berbicara ditemukan
bahwa dalam diri orang berbicara terdapat sejumlah karakter sebagai kodrat
manusia.
Makhluk yang berbucara dan mengisyaratkan harus
memiliki sebuah kesatuan substansial di bawah banyak perbuatan yang
dilakukannya. Sambil memperhatikan keterbukaannya terhadap dunia serta
kehadirannya pada orang-orang lain, ia menunjukkan bahwa ia memiliki
interioritas dan memiliki kemampuan menerima memiliki kreativitas, maka ia
menunjukkan bahwa ia sesuatu yang hidup. Ia mampu mengenal dan memiliki
kreatifitas. Ia terdiri dari badan dan jiwa. Dengan objektifitas, pemikiran dan
kebenasan yang menampilkan diri sebagai suatu pribadi (2001: 53).
Si pribadi yang berbicara, selama ia berbicara
berlangsung, terbuka terhadap dunia dan hadir pada orang-orang lain, terlebih
dahulu ia memiliki interioritas. Berbicara menunjukan orang hadir dalam dunia
dan tampil ditengah orang yang mendiaminya. Apa yang dikemukannya tentang dunia
terlebih dahulu dipikirkannya dan terkandung dalam dirinya sendiri. Pikiran
merupakan dasar dari prinsip ucapan, orng selalu meninjau kembali apa yang
telah dikatakan atau ditulisnya untuk menjelaskan dan membetulkannya. Hal itu
dapat dilakukan melalui cahaya suatu pikiran. Legitimasi dari metode linguistik
tidak bisa disangkal yang harus dipelajari secara realitas yang selalu sudah
tersusun.
Salah satu aspek istimewa manusia adalah kemampuannya
untuk memandng sesuatu secara objektif, supaya dapat menilai hal-hal dalam dan
untuk dirinya sendiri, agar kita selalu menjumpai kembali kebenaran , supaya
terbuka kepada dunia dan hadir pada orang-orang lain, orang yang berbicara
haruslah hadir pada dirinya sendiri. Lalu orang yang berbicara memperlihatkan
adanya kemampuan untuk menerima dan untuk bersifat kreatif yang menunjukkan
bahwa ia adalah sesuatu yang hidup. Belajar suatu bahasa berarti menempatkan
diri di bawah pengaruh dari mereka yang mengajarkan kepada kita, berarti
menyatukan diri pada suatu tradisi kebidayaan, menerima suatu cara tertentu
untuk mengamati dunia dan merasakannya.
Menggunakan suatu bahasa berarti tundung kepada
sejumlah besar hukum fonetik dan aturan sintaksis, juga meneyrahkan pikiran dan
organismenya sendiri kepada suatu cara tertentu untuk berkomunikasi serta
bertingkah laku. Belajar bahasa juga berarti memiliki sebuah alat yang dapat
kita manfaatkan tanpa henti-hentinya. Berbicara dalam suatu bahasa berarti menciptakan hubungan-hubungan yang
banyak sekali, membuat sejumlah besar kontak, tukar menukar gagasan serta
informasi tanpa hentinya. Berbicara dlam suatu bahasa berarti juga menempatkan
diri ke dalam suatu dunia, menyesuaikan diri dengannya, berpartisipasi dengan
eksistensinya, memanfaatkan kemungkinan-kemungkinan dan menikmati kekayaannya,
berarti bersikap sebagai sesuatu yang hidup.
Subjek yang berbicara serta mengisyaratkan dengan
memperlihatkan objektifitas, menunjukkan ia mampu berpikir dan berkebebasan,
mengemukakan hal-hal dengan cara objektif. Sesungguhnya berbicara dan
mengisyaratkan merupakan penggunaan-pengguanaan dinamisme-dinamisme yang
terpenting dari kodrat manusia.
Kehidupan: Kegiatan Ciri Khas
Makhluk Hidup
Karakter umum makhluk hidup adalah merealisir gagasan
hidup menurut caranya masing-masing yang khusus. Kita harus menentukan kegiatan
bersifak khas bagi makhluk hidup sehingga tidak bisa direduksi kepada kepamampuan
masin. Kegiatan utama dari ciri khas
makhluk hidup adalah asimilasi yaitu mengubah dan mengembangkan sendiri.
Makhluk hidup juga dapat memperbaiki dan memulihkan luka-lukanya, tidak
demikian halnya mesin.
Makhluk hidup mempunyai kemampuan luar biasa memproduksikan dan melipatgandakan
dirinya sebagai penerus spesiesnya. Makhluk hidup juga dapat bereaksi atas
pengaruh-pengaruh yang diterimanya dan keadaan-keadaan yang menkondisikan
eksistensinya (2001:63). Sesungguhnya manusialah yang mampu menentukan
tujuannya sendiri, sedangkan mesin tidak bisa, akan tetapi makhluk hidup
menjadikan tujuan-tujuan bagi dirinya sendiri. Orang yang ahli kibernetik
membatasi dirinya dalam bidang teknik, dia tidak menyentuk moral dan tidak
pernah menentukan tujuan-tujuan. Perbedaan radikal antara mesin dan makhluk
hidup (manusia dengan mesin), kegiatan-kegiatan yang termasuk bidang mekanik
dan instrumental, seperti dalam hubungan dengan perhitungan dan penalaran yang
dapat dikerjakan oleh sebuah mesin jauh lebih baik dari manusia, itulah yang
dibuktikan oleh ahli kibernetika. Akan tetapi kegiatan lain yang hanya dapat
dilaksanakan oleh makhluk hidup, ialah : asimilasi, penyembuhan diri,
reproduksi diri, adaptasi dan readaptasi terus menerus dan menjadi tujuan bagi
dirinya sendiri. Dalam hal ini manusia menentukan sendiri cita-cita dan
tujuannya.
Menurut Soehakso bahwa walaupun suatu komputer dapat
menyelesaikan secara cepat sekali hitungan-hitungan yang memakan waktu lama
jikalau dikerjakan oleh ratusan orang, namun ada suatu persoalan yang dapat dipecahkan manusia
tetapi tidak dapat oleh komputer. Komputer statis, terkonstruksi berbeda dengan
pikiran manusia yang dinamis.
Kodrat Makhluk Hidup
Makhluk hidup secara esensial adalah yang mampu
menyempurnakan dirinya sendiri. Makhluk hidup dapat melakukan kegiatan
transitif yaitu kegiatan yang memproduksi suatu efek diluar dari perilakunya,
seperti melukis kain kanvas, dan kegiatan imanen yaitu kegiatan yang efeknya
tetap di dalam makhluk itu, seperti mengerti sesuatu, mengambil suatu
keputusan, asimilasi, pembiakan dan reproduksi. Makhluk hidup hadir pada dirinya sendiri, kegiatannya
menyempurnakan diri.
Semua makhluk hidup ada dua aspek/unsur yang
esensial, yaitu:
1). Keseluruhan yang berorgan dan tersusun yang dinamakan badan.
2). Kesatuan substansial yang disebut jiwa.
Badan dan jiwa bersama-sama suatu makhluk hidup,
merupakan substansi natural yang terbentuk dari badan dan jiwa dari keseluruhan
organ dan kesatuan fundamental dari kesatuan indrawi dan subjektivitas metaindrawi.
Menurut Tresmontan menyebutkan bahwa manusia suatu sutruktur yang subsisten,
dari segi biologis manusia sama dengan
makhluk hidup, manusia adalan unsur yang bentuk yang tetap pada unsur-unsur
materialnya mengalami pembaruan. Manusia adalah makhluk yang kompleks sebagar
puncak evolusi.
Jiwa Makhluk Hidup
Jiwa
atau prinsip vital adalah suatu elemen yang indrawi, halus, panas dan dinamis
seperti nafas atau darah yang terdapat dalam oragisme secara total dan
definitif. Dalam pandangan tulisan kuno nafas dianggap sebagai lawan jiwa atau
roh dan darah menjadi lambang hidup sendiri. Nafas dan darah dapat melambangkan
jiwa, tetapi tidak dapat merupakannya. Pemikir - pemikir Yunani melihat jiwa bukan suatu elemen
dari organisme, tetapi keseimbangan harmonis dari organisme itu dimana seluruh
kegiatan bersinergis yang mampu dilaksanakan oleh makhluk hidup saja. Jiwa
merupakan unsur pokok yang pertama dan merupakan dinamisme primordial makhluk
hidup. Jiwa lebih unggul dari badan, prinsip kesadaran, interioritas, pemikiran
dan kebebasan.
Plato
mengajarkan tentang jiwa dan badan suatu ajaran yang disebut dualisme. Jiwa
merupakan “aku” sedangkan badan adalah sesuatu yang asing bagi “aku” benar
saya. Pandangan Plato ditolak oleh Arsitoteles, ia setuju dengan Plato bahwa
jiwa manusia termasuk jenis realitas yang lain dengan badan, setiap makhluk
hidup merupakan satu substansi saja, jiwa bukanlah suatu substansi. Jadi
Aristoteles adalah monis, bukan dualistis. Jiwa bukanlah suatu substansi, ia
tidak bereksistensi terpisah dari badan, ia bukan makhluk hidup yang lengkap.
Jiwa hanya prinsip konstitutif esensial makhluk hidup. Ialah yang
“mengstrukturkan-nya’ menjadi sesuatu yang hidup, dinamisme yang primordial,
“aktus”-nya yangpertama, bentuk substansialnya. Adapun badan pemerima dinamisme
primordial itu yang dengannya ia distrukturkan dan dihidupkan, yang berkatnya
ia menjadi suatu keseluruhan organisasi ssecara tetap, yang memapu melakukan
kegiatan-kegiatan hidup. Badan disebut subjek bagi jiwa. Menurut Aristoteles
badan dan jiwa merupakan dua unsur metaindera dan metafisik. Apa yang menjadi
indrawi dan fisik adalah makhluk hidup sendiri (2001:73).
Pokok
pikiran Aristoteles adalah penekanan akan kesatuan makhluk hidup dan
penjelasaannya bagaimana kelirunya kalau dibicarakan mengenai jiwa dan badan
seperti dua ”ada’. Jiwa dan badan adalah dua unsure esensial yang saling
melengkapi dalam suatu substansi yang sama.
Filosuf
abad pertengahan, seperti Thomas Aquinas berpendapat bahwa jiwa hanyalah satu
fenomena organic (aktifitas otak saja), atau jiwa adalah suatu substansi
spiritual yang dapat bereksistensi tanpa ikatan material karena sudah lengkap,
atau jiwa adalah suatu prinsip konstitutif yang bersifat metafisik, tetapi
berhubungan secara esensial dengan badan. Banyaknya konsepsi tentang jiwa
kurang lebih mirip dengan satu dari ketiga paham tersebut.
Filosuf
kontenporer biasanya mereka kurang suka membicarakan hal badan dan jiwa, mereka
lebih suka membicarakan kesatuan tingkah laku manusiawi dan menyatakan bahwa
manusia yang pertama-tama adalah suatu badan, tetapi suatu badan yang hidup,
bersifat perseptif, afektif yang berdasarkan dan yang mempunyai interiritas
atau suatu badan yang dipersonalisasikan.
Realitas Jiwa
Badan
hidup tidak bias bersifat objektif semata-mata, tapi bias direduksi pada apa
yang bias diobservasikan. Ia harus bersifat subjektif, mempunyai interioritas
dan semacam subjektivitas. Ia tidak bias bersifat organic
semata-mata, seperti yang instrumental saja, tapi ia harus mempunyai juga
sesuatu yang menyerupai “aku” yang mempergunakan apa yang organik dan
instrumental. Menurut Dr. Jean Lhermite mengatakan bahwa meskipun otak bisa
dibandingkan dengansebuah mesin yang terdiri dari semua alat elektronik yang
paling sempurna dan dari saklear-sakelar yang paling teratur, namun masih perlu
ditambahkan suatu ”operator”. Menurut H. Bergson menyatakan isi kesadaran
manusiawi jauh lebih kaya dari otak yang berhubungan dengannya (2001:77). Otak
tidak lebih daripada alat aktualisasi dan seleksi kehidupan mental, ingat dan
pikiran termasuk tingkat lain.
Jiwa tak bisa dilihat atau diverifikasi dengan
pancaindra, jiwa bersolider secara esensial dengan badan, maka reinkarnasi
perindahan jiwa (metempsikose) adalah mustahil (absurd). Setiap jiwa seimbang
dengan satu badan saja. Namun para penyanggah roh (jiwa) mengatakan bahwa jiwa
hanya satu gejala organik. Ahli biologi dan psikologi menjelaskan pembentukan
dan tingkah laku makhluk hidup bukan hanya tanpa malihat di dalamnya apa yang
disebut jiwa itu. Biologi membicarakan makhluk hidup tanpa memperhitungkan apa
yang disebut jiwa.
Karakter Spesifik Badan Manusia
Badan tidak itu tidak berapa di luar intimitas kita
dan juga tidak sama secara total dengan keakuan kita yang paling dalam, bahwa
ia tidak merupakan suatu objek saja maupun suatu subjektivitas semata-mata.
Badan didefinisikan melalui hubungan eratnya dengan dunia dan partisipasinya
dengan jiwa atau keakuan. Seperti semua badan, juga tidak berjiwa, badan
manusia menduduki sebuah tempat di dunia, mempunyai bentuk material yang
tertentu, dapat diukur dan dihitung dan terikat pada perubahan waktu. Semua
badan yang hidup, tumbuh-tumbuhan dan hewani, ia memiliki suatu kumpulan organ
yang memungkinkannya untuk memperbarui dan mereproduksi diri. Semua badan dilengkapi
pancaindra yang membuat sadar akan sekelilingnya dan beraksi secara afektif,
sehingga merasakan kenikmatan dan penderitaan.
sumber : buku pembelajaran kbk blok filsafat
tim dosen Universitas Tarumanagara 2014
sumber : buku pembelajaran kbk blok filsafat
tim dosen Universitas Tarumanagara 2014
isinya sih udah mantep :) Tapi coba deh judul-judulnya di ksih warna atau di Bold biar lebih keliatan point-point nya. pasti lebih keren .
BalasHapusblognya bagus nih warnanya sepadan semua hehe ringkasannya juga bagus tapi mungkin font nya agak dibesarin sedikit biar lebih keliatan hehe nilainya 88 yaa:)
BalasHapusTulisannya agak kekecilan nih, kalau digedein lagi bagus nih, sama dikasih warna dikit. tapi gini gua kasih 90 !!!
BalasHapus