TEORI-TEORI KEBENARAN -filsafat ilmu-
Posted: Mei 21, 2012Kebenaran adalah satu nilai utama dalam kehidupan bermasyarakat. Berdasarkan scope potensi subjek, maka susunan tingkatan kebenaran itu menjadi:
1. Tingkatan kebenaran indera adalah tingakatan yang paling sederhana dan pertama yang dialami manusia.
2. Tingkatan ilmiah, pengalaman-pengalaman yang didasarkan melalui indera dan diolah dengan rasio.
3. Tingkat filosofis, yaitu rasio dan pikir murni, renungan yang mendalam mengolah kebenaran itu semakin tinggi nilainya.
4. Tingkatan religius, kebenaran mutlak yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa dan dihayati oleh kepribadian dengan integritas dengan iman dan kepercayaan.
B. Teori Kebenaran Menurut Filsafat
Ada lima teori kebenaran menurut ilmu filsafat, yaitu:
1. Teori Korespondensi ( The Corespondence Theory of Truth )
Teori kebenaran yang pertama adalah teori korespondensi. Teori ini kadang disebut The Accordance Theory of Truth. Teori ini menjelaskan bahwa suatu kebenaran atau sesuatu keadaan benar bila ada kesesuaian antara arti yang dimaksud suatu pernyataan atau pendapat dengan objek yang dituju atau dimaksud oleh pernyataan atau pendapat tersebut. Sebagai contoh, Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga berada di kota Yogyakarta sekarang ini. Ini adalah sebuah pernyataan, dan apabila Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga berada di Yogyakarta, berarti pernyataan tersebut benar, sehingga pernyataan tersebut merupakan suatu kebenaran.
Jadi berdasarkan teori korespondensi ini, kebenaran atau keadaan dapat dinilai dengan membandingkan antara preposisi dengan fakta atau kenyataan yang berhubungan. Apabila keduanya terdapat kesesuaian (correspondence), maka preposisi tersebut dapat dikatakan memenuhi standar kebenaran. Teori ini sering dianut oleh realisme atau empirisme. K. Roger adalah seorang penganut realisme kritis Amerika, dengan pendapatnya “keadaan benar ini terletak dalam kesesuaian antara esensi atau arti yang kita berikan dengan esensi yang terdapat dalam objeknya”.
Rumusan teori ini bermula dari Aristoteles (384-322) dan disebut sebagai penggambaran yang definisinya berbunyi “veritasest adaequation intelctuset” yang artinya kebenaran adalah penyesuaian antara pikiran dan kenyataan yang kemudian teori ini dikembangkan oleh Bertrand Russel (1872-1970) pada zaman modern.1
2. Teori Koherensi (The Coherence Theory of Truth)
Merupakan teori kedua dari teori kebenaran. Teori ini sering disebut The Consistense Theory of Truth. Teori ini merupakan suatu usaha pengujian (test) atas arti kebenaran. Suatu keputusan adalah benar apabila putusan itu konsisten dengan putusan-putusan yang lebih dulu kita terima, dan kita ketahui kebenarannya. Putusan yang benar adalah suatu putusan yang saling berhubungan secara logis dengan putusan-putusan lainnya yang relevan.
Teori ini dipandang sebagai teori ilmiah yaitu yang sering dilakukan dalam sebuah penelitian dalam pengukuran suatu pendidikan. Teori koherensi ini tidak [1]bertentangan dengan teori korespondensi. Kedua teori ini lebih bersifat melengkapi. Teori koherensi adalah pendalaman dan kelanjutan yang teliti dari teori korespondensi. Teori koherensi menganggap suatu pernyataan benar bila didalamnya tidak ada pertentangan, bersifat koheren dan konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang telah dianggap benar. Dengan demikian suatu pernyataan dianggap benar, jika pernyataan itu dilaksanakan atas pertimbangan yang konsisten dan pertimbangan lain yang telah diterima kebenarannya.
Contoh dari teori ini misalnya apabila seseorang berbohong dalam beberapa hal, maka untuk menyelidikinya dengan menunjukkan bahwa apa yang dikatakan tidak cocok dengan hal-hal lain yang telah dikatakannya atau dikerjakannya.[2]
Paham koherensi tentang kebenaran biasanya dianut oleh para pendukung idealisme, seperti filsuf Britania F.H. Bradley (1846-1924). Teori ini sudah ada sejak pra Socrates, kemudian dikembangkan oleh Benedictus Spinoza dan Goerge Hegel. Penganut idealisme juga melakukan pendekatan masalah tersebut melalui epistemologinya Karena praktek sesungguhnya yang kita kerjakan tidak hanya menunjukkan bahwa ukuran kebenaran ialah keadaan saling- berhubungan, melainkan juga jawaban terhadap pertanyaan “Apakah halnya yang kita ketahui?” Hal ini memaksa kita untuk menerima paham tentang kebenaran diatas.
3. Teori Pragmatik ( The Pragmatic Theory of Truth )
Teori yang ketiga adalah teori pragmatik. Menurut William James dalam suatu kuliahnya mengatakan bahwa pragmatik berasal dari bahasa Yunani “pragma” yang berarti tindakan atau action. Dari istilah practice dan practical dikembangkan dalam bahasa Inggris. Teori ini kadang-kadang disebut teori inherensi ( Inherent Theory of Truth ). Pandangannya adalah suatu proposisi bernilai benar apabila mempunyai konsekuensi yang dapat dipergunakan atau bermanfaat.
Kattsof (1986) menguraikan tentang teori kebenaran pragmatis ini bahwa penganut pragmatisme meletakkan ukuran kebenaran dalam salah satu jenis konsekuensi. Atau proposisi itu dapat membantu untuk mengadakan penyesuaian yang memuaskan terhadap pengalaman, pernyataan, itu adalah benar. [3]
Pragmatisme menguji kebenaran dalam praktek yang dikenal para pendidik sebagai metode proyek atau metode problem solving dalam pengajaran. Mereka akan benar-benar hanya jika mereka berguna mampu memecahkan masalah yang ada. Artinya sesuatu itu benar, jika mengembalikan pribadi manusia dalam keseimbangan dalam keadaan tanpa persoalan dan kesulitan. Sebab tujuan utama pragmatisme adalah agar manusia selalu ada didalam keseimbangan, untuk ini manusia harus mampu melakukan penyesuaian dengan tuntutan-tuntutan lingkungan.
Kaum pragmatis menggunakan kriteria kebenaran dengan kegunaan (utility) dapat dikerjakan (workbility) dan akibat yang memuaskan (satisfaktor consequence). Oleh karena itu tidak adda kebenaran yang mutlak atau tetap, kebenarannya tergantung pada manfaat dan akibat. Akibat atau hasil yang memuaskan bagi kaum pragmatis adalah:
- Sesuai dengan keinginan dan tujuan.
- Sesuai dengan keterujian suatu eksperimen.
- Ikut membantu dan mendorong perjuangan untuk tetap eksis (ada).
Ostwald seorang kimiawan dari Leipzig pernah pula memberi kuliah filsafat dan menggunakan prinsip pragmatisme. Menurut Ostwald bahwa semua realita memberi pengaruh pada sikap dan pengaruh itulah yang disebut dengan pengertian. Ketertarikan James dengan ajaran pragmatisme yang dikemukakan Ostwald, ia mengemukakan pula bahwa pragmatisme telah mengemukakan suatu sikap yang lengkap bagi filsafat. Apa yang dikatakan suatu kebenaran bagi James, bahwa kebenaran adalh sebagian daropada apa yang disebut baik.
Pada akhirnya, James menyimpulkan: “how could pragmatism possibly deny God’s existence?”[4]……… bagaimana mungkin pragmatisme dapat menyangkal adanya Tuhan sebagai pencipta alam semesta.
4. Teori Performatif (The Performatif Theory of Truth)
Teori ini menyatakan bahwa kebenaran diputuskan atau dikemukakan oleh pemegang oleh pemegang otoritas tertentu. Contoh pertama mengenai penetapan 1 Syawal. Sebagian muslim di Indonesia mengikuti fatwa atau keputusan MUI atau pemerintah, sedangkan sebagian yang lain mengikuti fatwa ulama tertentu atau organisasi tertentu. Contoh kedua adalah pada masa rezim orde lama berkuasa, PKI mendapat tempat dan nama yang baik di masyarakat. Ketika rezim orde baru, PKI adalah partai terlarang dan semua hal yang berhubungan atau memiliki atribut PKI tidak berhak hidup di Indonesia. Contoh lainnya pada masa pertumbuhan ilmu, Copernicus (1473-1543) mengajukan teori heliosentris dan bukan sebaliknya seperti yang difatwakan gereja. Masyarakat menganggap hal yang benar adalah apa-apa yang diputuskan oleh gereja walaupun bertentangan dengan bukti-bukti empiris.
Dalam fase hidupnya, manusia kadang kala harus mengikuti kebenaran performatif. Pemegang otoritas yang menjadi rujukan bisa pemerintah, pemimpin agama, pemimpin adat, pemimpin masyarakat, dan sebagainya. Kebenaran performatif dapat membawa kepada kehidupan sosial yang rukun, kehidupan beragama yang tertib, adat yang stabil, dan sebagainya.
Masyarakat yang mengikuti kebenaran performatif tidak terbiasa berpikir kritis dan rasional. Mereka kurang inisiatif dan inovatif, karena terbiasa mengikuti kebenaran pemegang otoritas. Pada beberapa daerah yang masyarakatnya masih sangat patuh pada adat, kebiasaan ini seakan-akan kebenaran mutlak. Mereka tidak berani melanggar keputusan pemimpin adat dan tidak terbiasa menggunakan rasio untuk mencari kebenaran.[5]
- 5. Teori Struktural (The Structural Theory of Truth)
Paradigma juga menunjukkan keanekaragaman individual dalam penerapan nilai-nilai bersama yang bias melayani fungsi-fungsi esensial ilmu pengetahuan. Fungsi dari paradigma adalah sebagai keputusan yuridiktif yang diterima dalam hukum yang tidak tertulis. Pengujian suatu paradigma terjadi setelah adanya kegagalan secara berlarut-larut dalam memecahkan masalah yang menimbulkan krisis. Pengujian ini adalah bagian dari kompetisi diantara dua paradigma yang bersaingan dalam merebutkan kesetiaan masyarakat sains. Teori baru yang menang, akan mengalami verifikasi.
Adanya perdebatan antar paradigma bukan mengenai kemampuan relative suatu paradigma dalam memecahkan masalah secara tuntas. Adanya jaringan yang kuat dari para ilmuwan sebagai peneliti konseptual teori instrument dan metodologi merupakan sumber utama yang menghubungkan dengan pemecahan berbagai masalah.[6]
sumber : dosen Mikha Agus Widiyanto, M.PD.
http://riezkyckky.wordpress.com/2012/05/21/teori-teori-kebenaran-filsafat-ilmu/
terbuka untuk yang ingin berkomentar yaa thanks ^^
Nice blog mitta, nilai 88 buat kamu :D
BalasHapusthanks ingrid :)
Hapusbagus postingannyaa lengkap bangeeet
BalasHapus85 deeh buat kamuu :)
thanks jesikaa hehe :)
Hapus